January 17, 2010

Prediksi kebutuhan beasiswa Jan-Des 2010

Nama siswa: Aprilia SMA 2:
Januari-December 2010:
1. Sumbangan pembangunan/ Uang Gedung: Rp 1,000,000
2. SPP : Rp Rp 240,000 x 12 = Rp 2,880,000
3. Transport : Rp 150,000 x 11 : Rp 1,650,000

Total dana yang dibutuhkan Aprilia dalam setahun kira2 Rp 5,530,000

Dian Lutfi SMK:
1. Sumbangan pembangunan/ Uang Gedung: Rp 500,000
2. SPP : Rp 100,000 x 12 : 1,200,000
3. Transport : Rp 150,000 x 11: Rp 1,650,000

Total: Rp 3,350,000

Izki (Madrasah setingkat SMA)
1.Sumbangan pembangunan : Rp 900,000
2. SPP: Rp 50,000 x 12 : 600,000

Total: Rp 1,500,000

Yuli Astuti (tahun pertama SMA)
1.Sumbangan Pembangunan: Rp 3,500,000
2. SPP (SMP 6 bulan, SMA 6 bulan) : Rp 60,000 x 6 + Rp 250,000 x 6 : Rp 1,860,000
3. Transport: Rp 1,650,000

Total: Rp 7,010,000

SMP
Mira (IX) dan Siska (IX)
1. Sumbangan Pembangunan per anak : 600,000
2. SPP : Rp 75,000 x 6 (kelas 8) + Rp 60,000 x 6 : Rp 810,000
3. Transport: Rp 150,000 x 11 : Rp 1,860,000

Total per anak: Rp 3,270,000
Total dua anak : Rp 6,250,000

Yuni dan Leni (kelas 8)
1. Sumbangan Pembangunan per anak: Rp 600,000
2. SPP : Rp 90,000 x 6 (kelas 7) + Rp 75.000 x 6 (kelas 8) : Rp 990,000
3. Transport: Rp 150,000 x 11 : Rp 1,860,000

Total per anak : Rp 3,450,000
Total dua anak : Rp 6,900,000

Dua anak lagi masuk kelas satu SMP (kelas 7)
1. Sumbangan Pembangungan: Rp 750,000
2. Seragam : Rp 450,000
3. SPP : Gratis SD + Rp 100,000 x 6 (kelas 7): Rp 600,000
4. Transport: Gratis SD + Rp 150,000 x 5.5 : Rp 825,000

Total per anak: Rp 2,625,000
Total dua anak: RP 5,250,000
———— ——— ——— –
Total keseluruhan: Rp 35,790,000

Sisa anak masih SD..

Bantuan alat tulis untuk 55 anak kita: Rp 2,475,000

———— ——— ——— ——— ——— ——— -
Total kebutuhan beasiswa tahun 2010: Rp 38,265,000 selama setahun atau Rp 3.188jt per bulan
———— ——— ——— ——— ———

January 10, 2010

Hanafi Nilai Kepemimpinan Hatta Sah dan Legitimate

Detik.com, Jan 10, 2010

Batam – Calon sekjen PAN dari kubu Dradjad Wibowo, Hanafi Rais, menilai kepemimpinan Hatta Rajasa yang terpilih secara aklamasi sah dan legitimate. Hanafi pun menyatakan kesiapannya mendukung hasil kongres ke III ini.

“Saya tetap mendukung ini sebagai kepemimpinan yang sah dan legitimate,” kata Hanafi di dalam jumpa pers di Media Centre Kongres PAN di Batam, Jumat (8/1/2010).

Hanafi menilai perjuangan untuk PAN masih baru dimulai. Karena itu hasil kongres merupakan awal dari pintu masuk berkiprah di PAN untuk masa depan PAN yang lebih baik.

Sebelumnya Hanafi menyatakan akan menyerahkan sepenuhnya soal peran dia di PAN dibawah kepemimpinan Hatta kepada Ketua MPP PAN Amien Rais dan ketua umum terpilih.

December 13, 2009

Oase Intelektual Fadli Zon

Kompas Daily Newspaper, Sunday, Dec 13, 2009


Kecuali tulisan besar di bagian fasad, Fadli Zon Library, bangunan di kawasan Penjernihan, Jakarta Pusat, itu tampak seperti rumah biasa bertingkat tiga dengan desain seperti layaknya rumah-rumah yang dibangun dua-tiga tahun terakhir, bersih dan minimal.

Saya ingin membangun oase intelektual. Banyak orang Indonesia tidak suka baca. Mudah-mudahan perpustakaan ini bisa menginspirasi orang yang punya kemampuan lebih besar dari saya juga membangun pusat- pusat intelektualisme yang bisa mencerdaskan masyarakat daripada membuat ruang-ruang ko song yang hanya aktif saat pilkada,” tutur Fadli di ruang kerjanya di perpustakaan itu.

Di ruang kerja di lantai dasar itu suasana perpustakaan sudah terasa. Di satu sisi dindingnya terdapat lemari kaca dari lantai ke langit-langit, penuh berisi buku. Di dinding yang lain terdapat patung kayu karya Hendra Gunawan dan lukisan karya Le Mayeur, pelukis yang lama menetap di Bali pada tahun 1930-an.

Di situ tersimpan buku-buku tua, antara lain naskah kuno Serat Cabolek yang ditulis Yosodipuro, Lokapala, dan Wulangreh yang berwujud tulisan tangan dan disalin dari buku aslinya pada tahun 1800-an dalam huruf Jawa Kuno. ”Buku yang tertua berasal dari tahun 1747, tulisan Rumphius tentang flora Ambon,” jelas Fadli.

Perpustakaan yang mulai dibangun pada Desember 2007 dan selesai pada Oktober 2008 itu, menurut Fadli, untuk menampung koleksi buku di rumah tinggalnya di Cibubur yang jumlahnya mencapai 10.000 buah. Sayang beberapa bulan lalu rumah di Cibubur terbakar dalam suasana kampanye pemilu tanpa sebab jelas. ”Semua buku habis. Untung sebagian sudah saya pindahkan kemari,” tutur Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu.

Fadli mengatakan, konsep perpustakaan ini adalah menggabungkan perpustakaan yang menyimpan buku-buku, galeri, rumah tinggal, juga tempat berkumpul dan berdiskusi, pokoknya multifungsi.

Keinginan memiliki tempat seperti ini di lokasi yang strategis adalah cita-cita lama suami dari Grace dan ayah dari Safa dan Zara yang sudah rajin mengumpulkan buku, koran, majalah, dan berbagai naskah sejak remaja ini.

Di atas tanah seluas 240 meter persegi itu, Fadli dengan bantuan teman-temannya, arsitek dan insinyur sipil, merancang bersama perpustakaan itu. ”Teman-teman saya, alumnus Universitas Indonesia juga, mengakomodasi keinginan saya tentang bangunan perpustakaan yang multifungsi,” tambah Fadli.

Buku, patung, lukisan, fosil

Begitu masuk ke dalam bangunan berlantai tiga itu, patung kayu, fosil, dan lukisan menyergap mata. Setelah meja penerima tamu, berikutnya adalah ruang tamu yang terdiri dari seperangkat sofa serta satu meja panjang dan di salah satu ujungnya terdapat televisi layar datar ukuran besar.

Di sofa dan di meja panjang itu hampir sepanjang waktu selalu ada orang, tamu dan teman pemilik perpustakaan. Di ruang berikut ada kolam kecil tempat dipeliharanya ikan koi dan ikan nila, dapur, serta ruang shalat. Di atas kolam adalah ruang terbuka yang memungkinkan cahaya matahari masuk langsung dan memberi penerangan alami.

Di lantai dua ruangan dibagi untuk menyimpan buku-buku serta 700-an keris dan tombak, fosil, serta patung dari berbagai daerah Indonesia. Di lantai ini juga terdapat dua kamar tidur. ”Saya sempat tidur sementara di sini waktu rumah saya terbakar, sebelum kami menyewa apartemen. Istri dan dua anak saya menumpang di rumah teman,” kata Fadli.

Kamar tidur satu lagi untuk tamu yang butuh tempat menginap. Rabu lalu seorang perupa dari Sumatera Barat menginap di sana setelah mengikuti kegiatan pengumpulan dana bagi korban gempa bumi Sumatera Barat.

Lantai teratas, lantai tiga, menjadi ruang diskusi yang bisa memuat lebih dari 60 orang. Di sini disimpan buku-buku dengan topik ekonomi, segala sesuatu tentang Rusia—Fadli adalah lulusan Sastra Rusia Universitas Indonesia dan melanjutkan pendidikan S-2 di London School of Economics and Political Science di Inggris—biografi dan buku sastra.

Di sini juga disimpan koleksi sekitar 150 piringan hitam dan sekitar 700 bungkus rokok berbagai merek produksi industri kecil dan menengah, kebanyakan diproduksi di Jawa.

Di ketiga lantai itu pendingin ruang selalu hidup, terutama untuk mengatur kelembaban udara karena sekitar 25.000 buku, majalah, dan naskah tersebut sebagian besar buku tua. Penerangan ruang sebagian besar berasal dari cahaya matahari yang masuk ke ruangan melalui jendela-jendela berukuran besar. Tentu saja buku-buku dan benda-benda seni tersebut tidak diletakkan di dekat jendela karena cahaya matahari dapat mengubah warna dan melapukkan benda.

Rumah cerdas

Dengan perpustakaan ini Fadli mengatakan ingin membangun rumah cerdas yang bisa melahirkan pemikiran baru. ”Semacam rendezvous intelektual dalam pemikiran kebudayaan dan bagaimana memajukan republik ini,” kata Fadli.

Di perpustakaan ini sudah berlangsung dua diskusi, yaitu mengenai penanganan pascagempa Sumatera Barat 30 September dan diskusi musik bersama Idris Sardi. Semua kegiatan itu masih dibiayai dari dana pribadi direktur produksi sebuah perusahaan perkebunan sawit itu.

Saat ini proses pengatalogan oleh enam pustakawan masih berlangsung. Jika semua telah selesai, judul-judul buku itu akan diunggah ke internet dan dihubungkan dengan perpustakaan di luar negeri.

Atas nasihat pamannya, penyair Taufik Ismail, perpustakaan ini dibuka untuk umum terbatas. ”Buku, majalah, koran, dan naskah boleh dibaca di tempat untuk yang ingin menulis buku dan sedang penelitian untuk sarjana, master, atau doktor. Tetapi, harus dengan perjanjian,” kata Fadli.

November 29, 2009

Books by Sintha Utami

Kiat Sehat Berhaji dan Umroh

oleh: Dr. H. Wawan Mulyawan, SpBS, AAK, Dr. Hj. Sintha Utami, SpOG

Penerbit :  Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis Buku:

Melaksanakan ibadah haji pasti merupakan impian seluruh umat Islam. Karena itu, sekalipun biaya untuk menunaikan ibadah haji tidak kecil, setiap umat Islam berusaha semampunya untuk mewujudkan salah satu rukun Islam ini. Mereka tak segan untuk menjual rumah, tanah, sawah, atau aset lain yang mereka miliki. Di samping itu, para calon jemaah haji juga diminta untuk mempersiapkan fisik yang bagus karena mereka harus mengikuti serangkaian perjalan an yang cukup jauh di tengah kondisi cuaca yang panas di siang hari dan sangat dingin di malam hari.

Tak heran bila kita kerap mendengar para jemaah jatuh sakit lantaran kelelahan atau tidak siap secara fisik. Penyakit memang bisa kita pandang sebagai karunia Allah, tinggal bagaimana kita menyikapi, menyiasati, dan berdoa sehingga pada saat kita berhaji dan umroh, penyakit tidak menghambat kita dan kita tetap dapat menunaikan ibadah nan suci dan agung ini secara optimal di tengah segala ke terbatasan kita sebagai manusia.

Buku ini kami buat sebagai panduan untuk menjaga kesehatan selama berhaji, mencakup persiapan kesehatan prahaji selama di tanah air, perilaku sehat selama berhaji, dan kiat menghadapi berbagai jenis penyakit yang mungkin dialami di tanah suci. Kami akan menjelaskan:

- Masalah vaksinasi,
- Menghadapi cuaca dingin dan panas,
- Makanan dan minuman yang kita konsumsi selama di tanah suci,
- Penyakit yang kerap terjadi di tanah suci dan bagaimana mencegahnya,
- Masalah perempuan: haid dan hamil saat berhaji,
- Penyakit yang memerlukan perhatian khusus,
- Obat-obatan yang perlu dibawa,
- Dll.’

100 Info Penting Persalinan

Penulis:  Sintha Utami 

Penerbit:  Dian Rakyat 

Buku ini berisi 10o info penting mengenai persalinan. Berbagai pertanyaan yang sering diungkapkan oleh pasien dijawab dengan lugas dan padat. Buku ini sangat penting untuk dimiliki oleh para calon orang tua yang sedang menghadapi masa-masa mendebarkan.

100 Info Penting Kehamilan

Penulis:  Sintha Utami 

Penerbit:  Dian Rakyat 

Buku ini berisi 10o info penting mengenai kehamilan. Berbagai pertanyaan yang sering diungkapkan oleh pasien dijawab dengan lugas dan padat. Buku ini sangat penting untuk dimiliki oleh para calon orang tua yang sedang menghadapi masa-masa mendebarkan.

September 28, 2009

SIF Indonesia Family Gathering, Oct 24, 2009

With the family

September 14, 2009

Iggi H. Achsien & Insight Investment Management

iggi

September 10, 2009

Buka Puasa di Pepper Lunch, Plaza Indonesia

Buka Puasa di hadiri oleh 19 orang termasuk tamu alumni Yui (SIF Thailand 2000) and husband. Terima kasih buat yang datang ya. We missed those who were unable to come. Beberapa point of discussion:

- Penggalangan dana untuk kelangsungan beasiswa Alumni SIF Indonesia

- Family gathering di Kebun Raya Bogor, 2 bulan lagi

12

September 6, 2009

Ahmad Fuadi: Dreams of the `pesantren’ kids

HeaderThe Jakarta Post   |  Sun, 09/06/2009 12:35 PM  |  Bookmark

 

When Alif Fikri, the main character of Negeri 5 Menara, or “Nation with Five Towers,” enrolls at the Pondok Pesantren, an Islamic boarding school in Madani, East Java, he is not following his heart, and would rather study at a public senior high school.

 

He is just going to please his, mother who wants him to be an ulema (Islamic scholar), and because he believes the school, which offers lessons in both religion and science, can help him reach his goal of some day becoming an influential engineer like B.J. Habibie – the former research and technology minister who went on to be President.

 

That is when the novel, inspired by the real life experiences of the author, Ahmad Fuadi, really begins.

 

We are taken on Alif’s journey through the pesantren, which immediately amazes him with its mantra, “Man jadda wajada” or “Whoever does something persistently will succeed”. Through Alif’s eyes, Fuadi details what really happens in a pesantren.

 

In the pesantren, Alif, who hails from Maninjau, West Sumatra, meets Raja from Medan, Said from Surabaya, Dulmajid from Sumenep, Atang from Bandung and Baso from Gowa; soon all of them become best friends.

 

Alif does a great job of learning life lessons: he quickly adapts with people from various ethnics. In fact, this is one of Alif’s best assets; it allows him to go really far in life.

 

Alif and his best friends teach each other important values such as loyalty, team work and healthy competition.

 

For example, despite his cleverness, Alif is not comfortable talking in front of large groups of people. But with the help from self confident orator Raja, who teaches Alif how to control an audience, Alif is able to impress people with his much-improved English speech.

 

Then, when Alif and the gang thwart an armed robber’s attempt to steal from the pesantren, they realize that they could not have done so if they hadn’t united.

 

Fuadi, a former Tempo journalist, definitely knows how to show a message and not just tell it; he lets the reader make their own conclusions on the values conveyed in the novel.

 

The intensity of Negeri 5 Menara goes beyond the friendship between Alif and his group. This novel shows Alif’s writing and photography skills rapidly develop after he joins the pesantren news media group. He also masters English and Arabic (including calligraphy) thanks to the pesantren.

 

Those skills prove invaluable to Alif’s future, as he ends up becoming a successful journalist in Washington, and not the engineer he once yearned to be.

 

After graduating from the pesantren, Alif and his best friends realize their dreams to live in Washington, Jakarta, Mecca, Cairo and London, each with a unique tower, hence the title “Nation with Five Towers”.

 

The book is also funny. Fuadi describes the experiences of the boys with humor and joy.

 

Like the time when senior student Tyson punishes Alif, Raja, Said, Atang, Dulmajid and Baso for being late to go to the mosque, Fuadi writes:

 

“Tweak the ear of your next buddy as hard as I tweak you,” says Tyson.

 

As Tyson tweaks Alif’s ear, Alif does the same to Atang and Atang follows the suit to Said. At the end, Baso, unable to tweak the ear of anyone else, has no choice but to tweak the ear of a cabinet. This kind of humor really adds to the richness of the novel.

 

The novel is however missing resolution on the religious aspects of life in a pesantren. We learn that Alif reads the Koran three times a day, so it can be assumed he is learning something from it, but we are unfortunately not told what he takes away from the good book. A discussion of Alif’s favorite verse and how it is relevant to his daily life would have been a valuable addition.

 

The novel has contains a number of annoying typos, such as kota kata and decandence, which are supposed to be kosa kata (vocabulary) and decadence.

 

However, overall, Fuadi has done a great job telling the story of Alif’s life in the pesantren and showing that pesantrens are great places to study. Although, it’s still hard to understand how the students can survive a daily routine which begins at 4 a.m. and does not end until 10 p.m.

 

An English edition of this novel would be useful is dispelling the unfortunately still spreading myth that pesantrens are a hot bed for terrorists. Negeri 5 Menara instead shows that the schools help students realize their full potential and produce successful graduates who contribute to society.

 

This novel is highly recommended, particularly for young people. The strong story and easy flow of the writing make Negeri 5 Menara a pleasure to read.

 

Anyone interested in understanding what actually goes on in a pesantren would benefit from reading this book.

 

I wait with baited breath for the sequel to this novel, which is the first in a planned trilogy.

 

Negeri 5 Menara

Ahmad Fuadi

Gramedia Pustaka Utama

416 pages

August 10, 2009

Arki & Rima’s wedding

arki rimaCongratulation Arki (SIF 2004) and Rima  (SIF 2004), who decided to be husband and wife on July 18, 2009. Arki and Rima are the 4th couple who got married among Alumni SIF Indonesia after Fadli (SIF 95) -  Grace (SIF 95), Dhanny (SIF 01) – Ami (SIF 01) and Elpi (SIF 01) – Lily (SIF 00)

Who’s going to be the 5th?

August 9, 2009

Books by Ahmad Fuadi

Negeri 5 Menara

Oleh: A. Fuadi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis buku

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk. Di mata
belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.