Muda dan Kaya Raya, Meski Bukan Pengusaha

Swa Sembada
Kamis, 18 Januari 2007
Oleh : Sudarmadi

Untuk meraih sukses finansial tak mesti harus punya usaha sendiri, tapi bisa dengan menjadi profesional ataupun self-employee. Pilihan jenis profesinya pun beragam. Beginilah cerita anak-anak muda yang berhasil membuktikannya.

Di sebuah kafe di BEJ Tower Jakarta, James Sutanto terkagum-kagum ketika mendengar cerita dari rekan mengobrolnya atau kawannya semasa kuliah dulu. Kawan James itu kini bekerja di perusahaan sekuritas papan atas di Jakarta. Tahun lalu, sang kawan bercerita memperoleh bonus di atas Rp 1 miliar, karena keberhasilannya menjalankan bisnis transaksi saham. Tak heran, ia sudah punya BMW dan rumah mewah di kawasan Cibubur. James yang bekerja sebagai entrepreneur UKM di Surabaya merasa takjub atas prestasi dan kemakmuran yang dicapai kawannya itu.

Seperti kawan James, belakangan kita bisa menemukan makin banyak anak muda yang hidup serba berkecukupan. Ini bisa dilihat dari tongkrongan kendaraan ataupun properti mewah yang mereka miliki – seperti sering terlihat dalam berbagai tayangan infotainment. Istimewanya, banyak dari mereka yang mencapai level kemakmuran itu bukan dari warisan orang tua, melainkan karena kerja keras mereka lewat jalur profesi masing-masing. Profesinya pun beragam, makin terspesialisasi, dan makin gunikh. Ada dari mereka yang bekerja sebagai profesional di perusahaan, tapi tak sedikit pula yang menjalani profesi sebagai pekerja mandiri (self-employee). Yang dimaksud kalangan profesional ini ialah sederet orang yang punya keahlian khusus dan sangat dibutuhkan di perusahaan (strategis), sehingga dibayar sangat mahal.

Contohnya: para ekonom (economist) yang bekerja untuk perusahaan sekuritas atau bank; pialang (pedagang saham); bankir; ahli geologi (geologist) di perusahaan pertambangan; dan sebagainya. Tak sedikit di antara mereka masih berusia muda, tapi berpenghasilan lebih dari Rp 25 juta sebulan. Bahkan, banyak yang melebihi bayaran sebesar itu. Kelompok anak muda tajir lainnya berasal dari kalangan pekerja mandiri. Yang paling banyak adalah mereka yang bekerja di dunia yang terkait dengan seni ataupun show biz (sebagai performer ataupun artis), seperti penyanyi, musisi, artis film/sinetron, sutradara, koreografer, pencipta lagu, pelukis, penari, MC, presenter, pelawak, pesulap, mentalis, peragawati, fotografer, dan model. Namun, tak sedikit pula, mereka yang menekuni bidang gyang lebih seriush, seperti konsultan, pengacara, dokter spesialis, arsitek, desainer, pelatih/instruktur, dan dai.

Sekarang, gampang sekali kita mencari contohnya – dari yang sering diberitakan infotainment sampai yang relatif belum populer. Ambil contoh dari kalangan pengacara muda nan tajir (walaupun belum cukup terkenal) adalah Ibrahim Senen. Pria kelahiran Palembang 28 September 1974 ini adalah Managing Partner Kantor Hukum DNC. Ibrahim yang lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (angkatan tahun 1992), punya keahlian di bidang litigasi korporasi, dan punya penghasilan minimum US$ 100 ribu per tahun. Meski masih muda, investasi propertinya terdapat di banyak lokasi.

Contoh lainnya, dari kalangan bankir ada nama Budiman Tanjung. Kelahiran Surabaya 15 Maret 1972 ini sekarang menjabat Head of Consumer Banking Bank DBS Indonesia. Di dunia show biz, para pekerja independen muda yang kaya, lebih banyak lagi. Misalnya saja para personel grup band Ungu, Samsons, dan Radja. Atau, penyanyi seperti Agnes Monica, Rossa, Glen Fredly, dan sederet nama lain. Samsons misalnya, tahun 2005 meraih sukses besar yang juga berimbas pada sisi kekayaan mereka. Album perdana Samsons bertajuk Naluri Lelaki, yang dirilis 25 November 2005 dalam kurun 7 bulan sudah terjual lebih dari 600 ribu copy. Mereka memperoleh 7 penghargaan Anugerah Musik Indonesia. Tak heran, masing-masing anggota Samsons punya pendapatan per bulannya minimum Rp 40 juta. Ini belum termasuk pendapatan dari lagu mereka sebagai ring back tone – terutama Kenangan Terindah – yang sempat di-download lebih dari 2 juta kali.

Grup band lainnya yang juga lagi moncer adalah Ungu. Albumnya bertajuk Demi Waktu, laris manis terjual 800 ribu copy. Di luar pendapatan pasif seperti itu, jadwal manggungnya pun amat padat, sebulan hanya off tiga hari. Toh, satu hal yang sama, sebelum para pekerja independen ini menikmati kesuksesan besar, mereka telah mengalami proses jatuh-bangun. Mereka pun harus berlatih spartan untuk meningkatkan keterampilan.

Tengok saja apa yang dilakukan grup lawak Cagur, grup band Ungu, dan pemain harpa Maya Hasan. Memang, grup lawak Cagur yang diawaki Deni Wahyudi, Wendi dan Narji yang kini rutin manggung di acara Funtastic (Senin hingga Jumat di RCTI); Kontak Jodoh (Minggu di SCTV), dan Chating (TPI), makin laris di acara off air (panggung). Namun sebelumnya, seperti diungkapkan Deni, untuk bisa seperti sekarang ini mereka sempat melawak dari kampus ke kampus degan bayaran hanya cukup untuk beli nasi bungkus. “Kami pernah dibayar Rp 25 ribu, atau dibayar pakai stiker. Semua pernah kami alami,” kata Deni mengenang. Ia menambahkan, pernah pula selama empat bulan tidak mendapat job sama sekali. Toh, mereka melewati masa getir itu dengan tegar.

Ungu setali tiga uang. Banyak yang tak tahu, sebelum mereka sukses dengan album Demi Waktu dan sekarang Surgaku, mereka pernah meluncurkan album perdana dan kedua yang hanya disambut dingin konsumen. Mereka juga pernah manggung di acara tingkat RT dengan bayaran ala kadarnya.

Perjuangan Maya Hasan, pemain harpa (harpist) terkemuka di Indonesia, tak kalah mengesankan. Ia sempat menghadapi kenyataan sama sekali tidak populernya alat musik ini. Door-to-door ia menawarkan diri untuk bisa tampil di orkestra. Ia bahkan sempat frustrasi dan berpikir untuk tinggal di luar negeri saja yang lebih memungkinkan musisi harpa untuk hidup layak. Tahun 1990-an Maya hanya dibayar Rp 75-300 ribu sekali tampil. Karena itu, ia sempat mencoba peruntungan di bisnis penjualan bunga dan dekorasi pelaminan. “Hingga tahun 1993 saya belum punya identitas,” tutur putri mantan menkeu di Kabinet Dwikora yang awalnya ingin menjadi ahli hukum ini. Sekarang, bicara musik harpa di Indonesia tak lengkap bila tidak menyebut nama Maya Hasan.

Bekal pendidikan tentu amat penting sebagai modal sukses mereka. Mereka yang sukses umumnya memang mengambil studi di bidang yang digeluti, meski tak harus berupa pendidikan formal. Setidaknya mereka telah mengikuti kursus-kursus di bidang terkait. Apalagi kalau menyangkut profesi khusus seperti pengacara, ekonom, arsitek, desainer, pemain harpa, ahli terapi, motivator, dan lain sebagainya. Artinya, banyak dari mereka yang punya latar belakang pendidikan memadai. Contohnya, Maya Hasan mengambil kuliah khusus soal musik harpa di Willamette University spesialisasi harp performance.

Contoh lain, Ibrahim Senen yang kini memimpin Kantor Hukum DNC. Sebelum punya posisi bagus di konsultan kenamaan ini, Ibrahim sudah magang di berbagai konsultan hukum. Antara lain, di Lubis Gani Surowijoyo; dan Ongko Hidarta & Partners. Pekerjaan magang ini sangat teknis atau lebih ke arah audit atau due diligence dengan memberi bahan kepada pengacara senior dalam membuat pendapat hukum. “Nah itu kerjaannya bisa very-very long hours. Karena kalau audit itu pagi-pagi hasil kerjaan harus ada di meja, padahal baru dikasih malamnya. Sedangkan anak magang kan kebanyakan masih kuliah dan skripsi,” papar Ibrahim menceritakan proses belajarnya.

Toh, banyak buktinya bahwa kesuksesan anak-anak muda cool ini tak lepas dari dukungan keluarga. Contohnya Bams, vokalis Samsons yang bernama asli Bambang Reguna Bukit. Ayah (tiri) Bams, pengacara terkenal Hotma Sitompul, tak pernah melarang Bams tampil menyanyi. Demikian pun ibunya. Malahan sewaktu kecil kalau lagi ada kesempatan bersama, ibunya menyuruh Bams menyanyi karena tahu Bams bisa menyanyi tapi memang pemalu. Keluarga besar ibunya yang pebisnis dan keluarga ayahnya (kebanyakan pengacara) tak ada yang melarang Bams ngeband bersama kawan-kawannya. “Kalau IP (indeks prestasi) kamu di atas tiga, kamu boleh apa saja. Mau jungkir-balik, pulang jam lima, asal tak melanggar hukum dan bertanggung jawab tak apa-apa,” demikian pesan orang tuanya.

Presenter muda yang lagi naik daun, Indra Bhekti, juga memperoleh dukungan dari keluarganya. Ibu kandungnya yang sudah almarhumah, Syafrida, biasa menyediakan tempat untuk latihan dan makanan ketika Indra dan teman-temannya berlatih, selain sering menemaninya ke tempat perlombaan. Sementara ayahnya terkadang membantu menyiapkan materi untuk lomba.

Respons agak unik dialami Maya Hasan karena sebenarnya awalnya keluarga tak mendukung kiprah Maya sebagai peharpa. Maya yang datang dari keluarga sangat mapan ini mengakui awalnya orang tuanya melihat musik tidak bisa menghidupi. Namun karena Maya mencintai harpa, ia kemudian terus menekuninya dan lama-kelamaan keluarga mendukung. Sikap keluarganya itu juga menjadi tantangan tersendiri untuk membuktikan kemampuannya. “Mereka tidak tahu dunia musik. Saya berhasil mengubah persepsi mereka meski dengan keringat dan darah, dan harus mengais-ngais,” tutur Maya seraya menjelaskan meski orang tuanya mantan pejabat tinggi, dirinya tak mudah mendapatkan jaringan. “Saya harus berangkat dari nol dan door-to-door sendiri” kenang Maya.

Selain dukungan keluarga, pengaruh dan dukungan lingkungan pergaulan rupanya juga sangat memberi warna kesuksesan mereka. Para pengacara muda sukses biasanya sudah memiliki komunitas sendiri. Ajang ini dipakai untuk menambah ilmu sekaligus tukar informasi. Para bankir, analis pasar modal, arsitek, desainer, bisa berkembang lantaran ditempa oleh dinamika komunitas pergaulan mereka.

Bams menceritakan, Samsons yang terdiri dari Bams (vokal), Irfan (gitar), Erik (gitar), Aldri (bass), dan Chandra (drum), bisa kompak karena bermula dari kesamaan rasa. Sebelum bergabung di Samsons, sebenarnya masing-masing pernah ngeband dari kafe ke kafe atau pentas seni, tapi mereka bosan karena tak ada perkembangan. Mereka merasa tidak berkembang karena personel band lainnya kurang serius. Lalu para personel Samsons ini bertemu dan merasa mengalami hal sama. “Teman-teman ini lalu ngumpul dan akhirnya pada 2003 membentuk band Equal, dan kemudian berganti menjadi SamSons,” papar Bams seraya menjelaskan bahwa Samsons dibentuk pada 14 Juli 2003.

Terbentuknya grup lawak Cagur pun demikian. Sebelumnya para personelnya merupakan mahasiswa di Jurusan Manajemen Tata Niaga IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta). Mereka sebelumnya sudah suka saling bercanda di kampus. “Kami cocok satu sama lain karena semua suka bercanda,” kata Deni. Dari situ mereka kemudian ikut berbagai pentas dan lomba lawak hingga kemudian berkembang seperti sekarang.

Di zaman berkembangnya show biz seperti saat ini, ajang lomba menjadi salah satu pintu masuk penting menuju sukses karier. Maka, tak heran belakangan bermunculan beragam ajang lomba ataupun pencarian bakat yang terkadang dikemas dalam sebuah variety show. Sebut saja Indonesian Idol, AFI, KDI, dan sebagainya. Sebagai contoh, Cagur sudah tidak terhitung mengikuti lomba lawak tingkat nasional sebelum resmi masuk dunia profesional. Apalagi Indra Bhekti, sebelum sukses sangat sering mengikuti berbagai ajang kompetisi seni seperti lomba puisi, nyanyi, dansa, modeling, acting hingga lomba presenter. Setiap event lomba yang dia minati, biasanya dia ikuti. “Saya pernah ditolak panitia lomba karena sudah terlalu sering ikut,” kenangnya.

Kunci sukses lainnya karena mereka sangat disiplin dalam berlatih dan meningkatkan kemampuan diri. Maya sudah biasa latihan harpa sendirian hingga jam dua pagi. Ia juga terus latihan meski harus pula mengurus suami dan anak. Sementara Chris John, petinju Indonesia yang memegang gelar Juara Dunia WBA, juga begitu. Sebagai petinju sukses ia memang banyak ditawari menjadi bintang iklan, tapi banyak orang mungkin tidak tahu kalau tiap sore ia berlatih paling tidak tiga jam di Herrys Gyms, Australia. “Saya kadang-kadang merasa bosan juga tiap hari harus latihan selama tiga jam,” ucap John menggambarkan kerasnya ia berlatih.

Hal yang serupa dijalani Agnes Monica. Di balik kemilau kariernya sebagai penyanyi, bintang sinetron dan bintang iklan, ia juga sangat keras bekerja dan disiplin membagi waktu. Maklum, kegiatan hariannya superpadat. Cewek belia ini pun tak sungkan berinvestasi dalam hal pengembangan diri. “Pengeluaran terbesar saya justru untuk pengembangan pribadi,” tutur Agnes yang mengaku hingga sekarang masih mengikuti kursus bahasa, vokal dan koreografi.

Satu hal lagi yang tak bisa diabaikan, munculnya orang-orang muda bertalenta bagus yang mampu menggaet prestasi yahud sekaligus fulus bejibun – khususnya di dunia show biz – karena makin semaraknya bisnis media televisi dan film. Maka, belakangan bermunculanlah peluang berkarier di bidang rumah produksi (production house), penyutradaraan, penulisan skenario, bintang iklan, presenter, penyanyi, hingga manajemen artis. Perkembangan bisnis dan lingkungan sosial seperti itulah yang telah melahirkan jenis-jenis profesi baru – seperti kita lihat sekarang dan mungkin nanti – yang sebelumnya tak terbayangkan. Ini juga berarti jalan alternatif bagi jutaan anak muda lain yang belum sukses untuk mengikuti jejak mereka-mereka yang sudah diceritakan itu.

Leave a comment

Filed under Alumni on the news

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s